Beranda » KONSER PIANO CALVIN ABDIEL DI JERMAN UKIR SEJARAH! Gamelan Pertama di Luar Negeri Jadi Saksi Bisu di MARKK Hamburg

KONSER PIANO CALVIN ABDIEL DI JERMAN UKIR SEJARAH! Gamelan Pertama di Luar Negeri Jadi Saksi Bisu di MARKK Hamburg

Calvin Abdiel Tambunan saat konser piano di MARKK Hamburg, Jerman Calvin Abdiel Tambunan konser di MARKK Hamburg! Gamelan pertama di luar negeri jadi saksi bisu.

HAMBURG, Beritahumas.com – Pianis berdarah Batak kelahiran Jakarta, Calvin Abdiel Tambunan, terbukti bukan sekadar pianis dengan teknik dan virtuositas tinggi. Ia adalah seorang seniman yang melalui konser-konsernya mampu menghadirkan relevansi musik dengan sejarah serta tradisi budaya kepada para pendengarnya. Sebagai pemenang dua kompetisi paling bergengsi, yaitu Sydney International Piano Competition 2021 (juara ke-3) dan Ananda Sukarlan Award 2020 (juara pertama), Calvin Abdiel kini semakin dikenal di kancah internasional.

Ia juga berperan penting dalam mempromosikan musik Indonesia ke seluruh dunia, antara lain dengan membawakan berbagai nomor Rapsodia Nusantara karya Ananda Sukarlan serta tampil di berbagai panggung bergengsi di Australia, Eropa, dan Asia, sehingga memperkenalkan kekayaan musik tanah air kepada audiens global.

Pada hari Minggu, 6 September 2026, ia menggelar konser di Museum am Rothenbaum – Kulturen und Künste der Welt (MARKK) di Hamburg, Jerman. Sekilas, konser ini tampak seperti resital piano biasa, namun ternyata menorehkan sejarah yang cukup penting.

MARKK: Museum Etnologi Terbesar di Eropa dan Gamelan Pertama di Luar Negeri

Saat ini, MARKK merupakan salah satu museum etnologi terbesar di Eropa. Koleksinya yang mencakup sekitar 350.000 objek dikunjungi oleh kurang lebih 180.000 pengunjung setiap tahunnya. Museum ini terletak di kawasan Rotherbaum, wilayah Eimsbüttel, Hamburg, tepatnya di jalan Rothenbaumchaussee.

Yang istimewa adalah, di MARKK inilah gamelan pertama yang pernah dipagelarkan di luar negeri kini disimpan. Gamelan tersebut sarat nilai sejarah karena pernah ditampilkan di Paris Expo tahun 1889. Di sanalah komponis Claude Debussy (1862–1918) mendengar gamelan untuk pertama kalinya. Peristiwa itu mengubah sejarah musik, karena ia kemudian mempelajari berbagai elemen gamelan dan mengintegrasikannya ke dalam karyanya, dimulai dengan “Pagodes” untuk piano solo.

Sejak saat itu, gamelan menjadi bagian penting dalam penciptaan dan pembaruan musik klasik, yang kemudian diikuti oleh komponis Prancis lainnya seperti Francis Poulenc dan Olivier Messiaen, serta menyebar ke seluruh dunia, antara lain melalui Benjamin Britten dan Sir Michael Tippett (Inggris), Colin McPhee (Kanada), dan seterusnya.

Konser Calvin: Rapsodia Nusantara dan Pagodes Debussy

Dalam konsernya, Calvin memainkan Rapsodia Nusantara No. 27 serta karya pendek “Batik Carved on Music” karya Ananda Sukarlan. Selain dua karya putra Indonesia tersebut, ia juga memainkan “Galamb Borong” dari komponis Hungaria György Ligeti, “Pagodes” dari Claude Debussy, dan satu nomor dari “Java Suite” karya Leopold Godowsky.

Rapsodia Nusantara merupakan sejumlah komposisi musik klasik karya pianis dan komponis Ananda Sukarlan yang mengeksplorasi serta menggunakan motif, melodi, sistem tangganada, ritme, dan harmoni lagu-lagu daerah dari berbagai provinsi di Indonesia. Secara tidak langsung, Rapsodia Nusantara yang kini berjumlah 45 nomor memperkenalkan dan melestarikan kekayaan musik tradisional Indonesia melalui format musik untuk piano solo yang virtuosik. Karya ini juga merangkul nilai inklusivitas, termasuk bagi penyandang disabilitas, karena beberapa nomor ditulis khusus untuk satu tangan saja, misalnya No. 15 dan 39 untuk tangan kiri saja, serta No. 40 untuk tangan kanan saja.

Ananda Sukarlan menciptakan “Batik Carved on Music” terinspirasi dari piano terakhir yang diproduksi di Indonesia oleh Yamaha sebelum mereka meninggalkan Indonesia pada akhir tahun 2025. Piano tersebut adalah sebuah grand piano indah yang dihiasi motif batik dan kini berada di Yamaha Music Center di Jalan Gatot Subroto, Jakarta—sebuah simbol perpisahan sekaligus persahabatan yang sangat menyentuh.

Sementara itu, Rapsodia Nusantara No. 27 menggunakan motif “Gending Sriwijaya” dan “Dek Sangke” dari Provinsi Sumatera Selatan.

Rangkaian Acara: Ceramah Prof. Henry Spiller dan Gamelan Margi Budoyo

Sehari sebelum konser Calvin Abdiel, pada hari Sabtu (5/9/2026), digelar ceramah oleh Prof. Henry Spiller di restoran Indonesia di Hamburg, Dapur Mama. Dalam kunjungan langkanya ke Hamburg serta dalam sesi ceramah tersebut, etnomusikolog dan Indonesianis asal Amerika, Profesor Emeritus dalam bidang Etnomusikologi di University of California Davis ini menelusuri perjalanan global gamelan (Jawa, Sunda, Bali, dan lainnya) melalui berbagai pameran dunia pada abad ke-19. Henry Spiller juga mengupas bagaimana musik dan budaya Indonesia ditampilkan, diperkenalkan, dan dipahami di luar negeri. Acara ceramah ini dilanjutkan dengan jamuan makan malam dan ramah-tamah.

Konser Calvin di MARKK dimulai dengan talkshow pukul 16.00 bersama Geraldus Martimbang (peneliti di Technical University Munich sekaligus pendiri Sagonese e.V.) dan Gabriel Laufer (pemain perkusi). Selain itu, juga ditampilkan penampilan dari Gamelan Margi Budoyo, kelompok gamelan binaan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hamburg.

Melalui konser ini, Calvin menyempurnakan sebuah lingkaran: musik Indonesia, melalui gamelan yang berada di lokasi tempat ia memberi konser, pernah memengaruhi jalannya sejarah musik Barat. Kini, amalgam musik tradisi Barat mempengaruhi musik komponis Indonesia dan menjadikannya mendunia.

Sejarah Singkat MARKK

Museum ini bermula dari sebuah koleksi etnografi kecil milik perpustakaan kota yang dirintis pada tahun 1849. Koleksi tersebut kemudian menjadi bagian dari Museum Sejarah Alam (Museum für Naturgeschichte) di Hamburg, dan pada tahun 1867 dibuka untuk umum dengan nama “Die Ethnographische oder Sammlung für Völkerkunde im Anschluss an das Naturhistorische Museum in Hamburg” (Koleksi Etnografi atau Koleksi Studi Masyarakat yang bernaung di bawah Museum Sejarah Alam Hamburg). Koleksi yang saat itu berjumlah 645 objek tersebut dikelola oleh Adolph Oberdörfer dan Ferdinand Worlée.

Pada tahun 1871, nama koleksi tersebut diubah menjadi “Culturhistorisches Museum” (Museum Sejarah Budaya), menandai perkembangannya yang terpisah dari “Naturhistorisches Museum”. “Museum für Völkerkunde” (Museum Etnologi) resmi didirikan pada tanggal 29 April 1879. Awalnya, seorang pengusaha bernama Carl W. Lüders memimpin museum tersebut dengan jabatan pengawas (provost) hingga tahun 1896. Pada tanggal 1 Oktober 1904, Georg Thilenius mengambil alih posisi sebagai direktur administratif untuk “Museum für Völkerkunde und Vorgeschichte” (Museum Etnologi dan Prasejarah). Georg Thilenius sangat mendukung pembangunan gedung museum tersendiri untuk menampung koleksi tersebut. Setelah disetujui, pembangunan berlangsung antara tahun 1908 dan 1912, diikuti dengan perluasan untuk ruang kerja yang rampung pada tahun 1929.

BACA JUGA;

Transformasi Keamanan: Kriminalitas di Sidoarjo Turun 32%, Penyelesaian Kasus Melonjak 117%

error: Content is protected !!